Harga emas dunia ditutup melemah tajam pada perdagangan Selasa setelah tekanan jual mendorong harga turun hingga menyentuh level terendah dalam beberapa pekan terakhir. Emas ditutup di level $4481.88 per troy ons setelah sempat bergerak di kisaran tertinggi $4588.88 dan terendah $4464.85. Sentimen pasar masih dibayangi kekhawatiran inflasi global dan potensi kebijakan suku bunga yang lebih tinggi, sehingga menekan minat investor terhadap aset safe haven seperti emas. Pada perdagangan hari ini, area pivot berada di level $4511.87. Selama harga masih bergerak di bawah area tersebut, emas berpotensi melanjutkan tren bearish dengan target support terdekat di area $4434.86 hingga $4387.84. Namun jika mampu rebound dan bertahan di atas pivot, harga emas berpeluang menguji resistance di area $4558.89 sampai $4635.90.
Harga emas dunia sempat melemah ke level terendah dalam tujuh pekan pada perdagangan Senin sebelum akhirnya rebound dan ditutup menguat di atas harga pembukaan harian. Aksi bargain hunting berhasil menopang pergerakan emas di atas level $4.500 per troy ons. Meski demikian, kenaikan emas masih dibatasi oleh kekhawatiran pasar terhadap lonjakan inflasi global akibat tingginya harga minyak dunia di tengah memanasnya konflik Timur Tengah. Pasar juga menantikan pernyataan sejumlah pejabat FOMC terkait arah kebijakan suku bunga The Fed. Secara teknikal, emas berpotensi melanjutkan penguatan menuju resistance $4.600 per troy ons. Namun jika turun di bawah level pivot $4.545, tekanan bearish berisiko kembali mendominasi pasar.
Harga emas dunia ditutup menguat pada perdagangan Senin setelah sempat menyentuh level terendah dalam tujuh pekan terakhir. Penguatan dipicu aksi bargain hunting yang mendorong harga kembali bertahan di atas level $4.500 per troy ons. Pada perdagangan hari ini, emas dibuka di kisaran $4.569 dan masih berpotensi melanjutkan penguatan menuju resistance terdekat di area $4.606. Jika level tersebut berhasil ditembus, kenaikan berpeluang berlanjut ke area $4.647 hingga $4.710. Namun, pelaku pasar tetap mewaspadai potensi tekanan bearish apabila harga turun di bawah level pivot $4.543 yang dapat membuka peluang pelemahan menuju support $4.502 hingga $4.439 per troy ons.
Harga emas dunia melemah tajam lebih dari 2% pada perdagangan Jumat dan mencatat penurunan selama empat sesi berturut-turut. Tekanan terhadap logam mulia dipicu oleh penguatan indeks Dollar AS dan naiknya imbal hasil obligasi AS di tengah meningkatnya kekhawatiran inflasi global akibat tingginya harga minyak dunia. Ketidakpastian konflik Timur Tengah setelah belum adanya kesepakatan antara AS dan Iran membuat harga minyak bertahan di atas USD100 per barel. Kondisi tersebut meningkatkan ekspektasi suku bunga tinggi bertahan lebih lama sehingga mengurangi daya tarik emas sebagai aset non-bunga. Pada perdagangan pagi ini, emas dibuka di kisaran USD4536 per troy ons dan masih bergerak dalam bias bearish di bawah level pivot harian 4574. Area 4511 menjadi support penting yang jika ditembus berpotensi membawa harga turun lebih lanjut menuju 4485 hingga 4460. Namun, aksi bargain hunting juga berpeluang mendorong rebound menuju area 4600 hingga 4625.
Harga emas dunia ditutup melemah tajam pada perdagangan akhir pekan setelah tekanan dari penguatan dolar AS dan tingginya imbal hasil obligasi masih mendominasi pasar. Kekhawatiran bahwa inflasi global akan tetap tinggi membuat ekspektasi suku bunga tinggi bertahan lebih lama kembali membebani pergerakan logam mulia. Pada perdagangan pagi ini, emas dibuka di kisaran USD4653 per troy ons setelah sebelumnya ditutup di level USD4545 dan sempat menyentuh titik terendah di area 4511. Secara teknikal, harga masih bergerak di bawah level pivot harian 4574 sehingga bias pasar cenderung bearish. Area 4482 menjadi support terdekat yang perlu diperhatikan. Jika ditembus, tekanan jual berpotensi membawa emas turun lebih dalam menuju 4420 hingga 4329. Sementara itu, rebound berpeluang terjadi apabila harga mampu kembali bergerak di atas level pivot dengan target resistance di area 4636 hingga 4727. Volatilitas pasar diperkirakan tetap tinggi dengan rata-rata pergerakan harian mencapai 127 poin.
Harga emas dunia kembali ditutup melemah pada perdagangan Kamis dan mencatat penurunan harian selama tiga sesi berturut-turut. Tekanan terhadap logam mulia muncul setelah data penjualan ritel Amerika Serikat menunjukkan pertumbuhan sesuai ekspektasi di tengah meningkatnya inflasi global. Kenaikan harga minyak dunia yang masih bertahan di atas USD100 per barel akibat ketidakpastian konflik Timur Tengah turut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap inflasi. Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama sehingga mengurangi daya tarik emas sebagai aset non-bunga. Pada perdagangan pagi ini, emas dibuka di kisaran USD4653 per troy ons dan mencoba rebound menuju area pivot 4671. Jika mampu bertahan di atas level tersebut, emas berpeluang naik ke area 4700 hingga 4725. Sementara itu, support terdekat berada di level 4625 yang jika ditembus dapat membuka ruang pelemahan lebih lanjut menuju 4600 hingga 4575.
Harga emas dunia kembali ditutup melemah pada perdagangan Kamis setelah tekanan dari penguatan dolar AS dan tingginya ekspektasi suku bunga masih membayangi pasar. Pelaku pasar tetap berhati-hati menyusul data inflasi AS yang kuat dan berpotensi membuat Federal Reserve mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama. Pada sesi perdagangan pagi ini, emas dibuka di kisaran USD4692 per troy ons dan bergerak dengan bias bearish setelah ditutup di bawah level pivot harian 4671.68. Area support terdekat berada di level 4624, sementara penembusan di bawah area tersebut dapat membuka peluang pelemahan lanjutan menuju 4597 hingga 4550. Di sisi lain, apabila harga mampu kembali bergerak di atas area pivot, emas berpotensi rebound dengan target resistance di level 4699 hingga 4745. Volatilitas pasar diperkirakan tetap tinggi dengan rata-rata pergerakan harian mencapai 100 poin.
Harga emas dunia ditutup melemah pada perdagangan Rabu setelah data inflasi Amerika Serikat dirilis lebih tinggi dari ekspektasi pasar. Kondisi tersebut meningkatkan peluang Federal Reserve mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama sehingga menekan daya tarik emas sebagai aset non-bunga. Pasar juga menyoroti konfirmasi Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve yang baru menggantikan Jerome Powell. Meski diharapkan mendukung suku bunga lebih rendah, tingginya inflasi dinilai menjadi tantangan besar bagi kebijakan tersebut. Pada perdagangan pagi ini, emas dibuka di kisaran USD4692 per troy ons dan masih bergerak netral di sekitar level pivot harian. Area 4720 menjadi resistance penting untuk mendorong penguatan lanjutan, sementara support terdekat berada di level 4663.
Harga emas dunia ditutup melemah pada perdagangan sebelumnya setelah gagal mempertahankan penguatan di area tertinggi harian. Logam mulia bergerak terbatas di tengah sikap hati-hati pelaku pasar yang masih mencermati arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat serta pergerakan imbal hasil obligasi AS. Pada sesi pagi ini, emas dibuka di kisaran USD4.715 per troy ons dan bergerak di bawah level pivot harian 4694.86 sehingga bias jangka pendek masih cenderung bearish. Area support terdekat berada di level 4663, sementara break di bawah area tersebut berpotensi membuka ruang pelemahan lanjutan menuju 4637 hingga 4605. Di sisi lain, apabila harga mampu kembali bergerak stabil di atas level pivot, emas berpeluang rebound dengan target resistance di area 4720 hingga 4752. Volatilitas perdagangan diperkirakan tetap tinggi dengan rata-rata pergerakan harian mencapai 97 poin.
Harga emas dunia (XAUUSD) ditutup melemah pada perdagangan Selasa, 12 Mei 2026, di level USD 4.715,11 per troy ounce setelah data inflasi Amerika Serikat (CPI) April naik menjadi 3,8% YoY, lebih tinggi dari ekspektasi pasar. Kenaikan inflasi memicu penguatan Dolar AS sekaligus meningkatkan ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Tekanan terhadap emas juga datang dari meningkatnya probabilitas kenaikan suku bunga AS pada awal 2027 serta memudarnya harapan pemangkasan suku bunga tahun ini. Kondisi tersebut membuat investor beralih ke aset berbasis Dolar AS yang dinilai lebih menarik dibanding emas yang tidak memberikan imbal hasil. Selain faktor fundamental, aksi deleveraging oleh investor institusi dan meningkatnya arus keluar ETF emas global turut memperlemah sentimen pasar. Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, khususnya terkait penutupan Selat Hormuz, juga mendorong investor memilih likuiditas tunai dibanding aset safe haven seperti emas. Di pasar domestik, pelemahan harga emas dunia ikut menekan harga emas batangan dan buyback di Indonesia meski Rupiah masih berada di kisaran Rp17.500 per USD. Analis memperkirakan harga emas masih berpotensi bergerak dalam fase konsolidasi selama tekanan inflasi AS dan ketegangan geopolitik masih berlangsung.