• company.vifxjogja@gmail.com
  • (0274) 2924181
News Photo

Emas Tancap Gas ke US$ 5.020, Siap Uji Resistance US$ 5.041 di Tengah Ketidakpastian The Fed & Geopolitik

Tren kenaikan harga emas dunia masih berlanjut di tengah tingginya permintaan terhadap aset safe haven akibat ketidakpastian global dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Para analis menilai, selama momentum positif tetap terjaga, emas berpotensi menguji level resistance selanjutnya di area US$ 5.041 per ons.

Pada perdagangan Kamis (19/2/2026) pukul 14.10 WIB, harga emas tercatat menguat di kisaran US$ 5.020,05 per ons. Posisi ini mencerminkan pemulihan yang cukup kuat setelah sebelumnya sempat terkoreksi lebih dari 2% pada hari Selasa. Secara year-to-date, emas telah mencatatkan kenaikan sekitar 15,24% sepanjang 2026.

Minat beli investor kembali meningkat menjelang rilis risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC), yang menjadi indikator penting dalam membaca arah kebijakan suku bunga. Saat ini, Federal Reserve masih mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,5%–3,75%. Namun, adanya perbedaan pandangan di antara pejabat bank sentral mengenai prospek pelonggaran moneter membuat pelaku pasar tetap bersikap waspada.

Dari sisi teknikal, pergerakan emas menunjukkan struktur tren bullish yang semakin kuat, didukung oleh pola candlestick positif serta indikator Moving Average yang terus mengarah naik. Selama dorongan beli bertahan, harga berpeluang menembus resistance di US$ 5.041 per ons. Meski demikian, potensi koreksi tetap perlu diantisipasi jika momentum mulai melemah.

Adapun level support krusial berada di sekitar US$ 4.911 per ons. Penembusan di bawah area tersebut dapat membuka ruang koreksi yang lebih dalam sebelum harga kembali menemukan keseimbangan.

Secara fundamental, meningkatnya tensi geopolitik turut memperkuat daya tarik emas sebagai instrumen lindung nilai. Pernyataan Wakil Presiden AS JD Vance terkait negosiasi nuklir Iran memicu kekhawatiran pasar, terutama setelah Presiden AS Donald Trump menyampaikan kemungkinan penggunaan opsi militer apabila jalur diplomasi tidak membuahkan hasil. Situasi ini mendorong investor mengalihkan dana ke aset yang dinilai lebih aman, seperti emas.

Selain faktor geopolitik, arah kebijakan suku bunga The Fed tetap menjadi katalis utama pergerakan harga. Risalah FOMC terbaru menunjukkan sebagian pejabat masih mencermati risiko inflasi dan bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga jika tekanan harga kembali meningkat. Kondisi ini sempat mendukung penguatan dolar AS, yang secara historis kerap menahan laju kenaikan emas.

Di sisi lain, data ekonomi AS yang bervariasi menciptakan dinamika tersendiri. Penurunan inflasi memunculkan harapan pelonggaran kebijakan moneter, sementara pasar tenaga kerja yang tetap solid mencerminkan ketahanan ekonomi. Kombinasi tersebut memicu volatilitas, namun tetap menjaga prospek emas dalam tren positif.

Ke depan, pelaku pasar akan menantikan sejumlah rilis data penting AS seperti klaim pengangguran awal, penjualan rumah tertunda, Produk Domestik Bruto (PDB), serta Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE). Data-data ini akan menjadi penentu arah kebijakan The Fed sekaligus memengaruhi pergerakan emas dalam jangka pendek.

Secara keseluruhan, peluang penguatan emas masih terbuka selama sentimen safe haven mendominasi dan sinyal teknikal tetap mendukung. Dengan resistance di US$ 5.041 dan support di US$ 4.911, investor disarankan tetap disiplin dalam menerapkan manajemen risiko mengingat volatilitas harga masih cukup tinggi dalam waktu dekat.

Bagikan Berita Ini

Komentar

Apakah Anda ingin mendapatkan layanan berkualitas kami untuk Investasi?