• company.vifxjogja@gmail.com
  • (0274) 2924181
News Photo

Emas Naik Jelang Data Ketenagakerjaan Amerika Serikat

Harga emas global kembali menguat pada perdagangan Kamis (8/1/2026), setelah sempat mengalami koreksi tajam pada sesi sebelumnya. Penguatan ini terjadi di tengah sikap wait and see investor yang menantikan rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS), yang dinilai akan menjadi penentu arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) ke depan.

Mengutip Reuters, potensi kenaikan harga emas dalam jangka pendek masih tertahan oleh tekanan dari penyesuaian bobot komoditas dalam indeks global, yang memicu aksi jual teknikal di pasar.

Emas tercatat menguat dan ditutup di level US$ 4.477,2 per ons menjelang pengumuman data non-farm payrolls AS yang dijadwalkan rilis pada Jumat (9/1/2026), meski sebelumnya sempat bergerak melemah di awal perdagangan.

Analis pasar menjelaskan bahwa penyesuaian tahunan sejumlah indeks komoditas utama, seperti Bloomberg Commodity Index dan S&P GSCI, yang dilakukan pekan ini mendorong investor melakukan penjualan untuk menyesuaikan kembali komposisi portofolio. Akibatnya, emas dan logam mulia lainnya mengalami tekanan jual bersifat sementara.

Seorang analis komoditas menyebutkan bahwa proses rebalancing indeks tersebut berpotensi menekan harga emas dan perak dalam beberapa sesi perdagangan ke depan.

Perhatian pasar kini tertuju pada data tenaga kerja AS. Berdasarkan survei Reuters, jumlah lapangan kerja diperkirakan bertambah sekitar 66.000 pada Desember 2025, sedikit meningkat dibandingkan 64.000 pada bulan sebelumnya. Sementara itu, tingkat pengangguran diproyeksikan turun tipis dari 4,6% menjadi 4,5%. Data ini dinilai penting untuk membaca langkah kebijakan moneter The Fed selanjutnya.

Saat ini, pelaku pasar telah mengantisipasi kemungkinan dua kali pemangkasan suku bunga sepanjang 2026. Dalam kondisi suku bunga rendah, emas yang tidak memberikan imbal hasil cenderung menjadi aset yang lebih menarik bagi investor.

Sebelumnya, sejumlah indikator menunjukkan perlambatan di pasar tenaga kerja AS. Klaim tunjangan pengangguran mingguan tercatat meningkat secara moderat, sementara data ketenagakerjaan sektor swasta juga melambat, memperkuat pandangan bahwa permintaan tenaga kerja mulai melemah dan memengaruhi ekspektasi suku bunga.

Dari sisi geopolitik, ketidakpastian global turut menopang harga emas sebagai aset lindung nilai. Pasar mencermati laporan penyitaan dua kapal tanker yang berkaitan dengan Venezuela di Samudra Atlantik, serta pembahasan di AS mengenai kemungkinan kompensasi finansial terhadap sejumlah wilayah guna mendorong agenda politik tertentu.

Analis HSBC bahkan memperkirakan harga emas berpeluang menembus level US$ 5.000 per ons pada paruh pertama 2026, seiring meningkatnya risiko geopolitik global dan membengkaknya utang fiskal di berbagai negara.

Sementara itu, pergerakan logam mulia lainnya justru menunjukkan pelemahan. Harga perak tercatat turun 1,6% dan ditutup di level US$ 76,94 per ons.

sumber : investor.id

Bagikan Berita Ini

Komentar

Apakah Anda ingin mendapatkan layanan berkualitas kami untuk Investasi?