• company.vifxjogja@gmail.com
  • (0274) 2924181
News Photo

Harga Emas Anjlok Usai Investor Lakukan Aksi Ambil Untung

Harga emas global mengalami penurunan signifikan pada perdagangan Rabu (7/1/2025). Pelemahan ini dipicu aksi ambil untung (profit taking) oleh investor setelah harga emas mencatat reli kuat dalam beberapa waktu terakhir. Meski demikian, tekanan penurunan sempat tertahan oleh rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang lebih lemah dari perkiraan pasar, sehingga kembali memunculkan harapan akan pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed).

Emas spot tercatat melemah 0,93% dan ditutup pada level US$ 4.456,32 per ons. Sepanjang sesi perdagangan, harga emas bahkan sempat merosot hingga 1,7% ke posisi terendah intraday di US$ 4.423,27 per ons.

Direktur perdagangan logam High Ridge Futures, David Meger, menjelaskan bahwa koreksi harga emas lebih disebabkan oleh aksi ambil untung setelah lonjakan harga yang cukup tajam sebelumnya. Ia menilai pelemahan tersebut masih bersifat teknikal. Meger juga menambahkan bahwa melemahnya data ketenagakerjaan AS tetap menjadi faktor penopang harga emas dalam jangka menengah.

Data terbaru menunjukkan jumlah lowongan pekerjaan di AS pada November turun lebih dalam dari ekspektasi, setelah hanya mencatat kenaikan tipis pada Oktober. Selain itu, laporan ADP mengungkapkan pertumbuhan lapangan kerja sektor swasta pada Desember juga berada di bawah proyeksi pasar.

Kondisi tersebut semakin memperkuat keyakinan pelaku pasar bahwa The Fed akan segera melonggarkan kebijakan moneternya. Berdasarkan data LSEG, pasar kini memproyeksikan pemangkasan suku bunga sebesar 61 basis poin sepanjang tahun ini. Fokus investor berikutnya akan tertuju pada rilis data nonfarm payrolls AS yang dijadwalkan pada Jumat mendatang.

Di sisi lain, ketegangan geopolitik global masih menjadi faktor risiko. Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada akhir pekan lalu memicu dinamika baru, setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana untuk memurnikan serta menjual minyak mentah Venezuela. Gedung Putih juga mengonfirmasi adanya pembahasan mengenai kemungkinan akuisisi Greenland, termasuk opsi keterlibatan militer.

Dari kawasan Asia, sentimen positif datang dari China. Bank sentral China kembali menambah cadangan emas pada Desember, menandai 14 bulan berturut-turut pembelian emas. Meger menilai kuatnya permintaan dari Asia, khususnya China, menjadi salah satu faktor utama yang sebelumnya mendorong kenaikan harga emas.

Sebagai aset lindung nilai yang tidak memberikan imbal hasil, emas umumnya diuntungkan dalam lingkungan suku bunga rendah serta di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik.

Sementara itu, logam mulia lainnya juga mengalami tekanan. Harga perak spot merosot 3,91% dan ditutup di level US$ 78,15 per ons. HSBC merevisi naik proyeksi harga perak untuk tahun 2026 menjadi US$ 68,25 per ons, namun tetap mengingatkan potensi volatilitas akibat melonggarnya pasokan. Goldman Sachs juga menyoroti menipisnya stok perak di London yang berpotensi memicu pergerakan harga ekstrem, meskipun reli tersebut dinilai rentan berbalik arah.

sumber : investor.id

Bagikan Berita Ini

Komentar

Apakah Anda ingin mendapatkan layanan berkualitas kami untuk Investasi?