Harga Minyak Mentah AS jenis West Texas Intermediate (WTI) tercatat menguat ke sekitar US$ 60,21 per barel pada Senin pukul 13.15 WIB. Meski demikian, komoditas ini masih berada dekat level tertinggi dua minggu yang dicapai pada Jumat sebelumnya.
Menurut laporan Reuters yang mengutip sumber terpercaya, negara-negara Group of Seven (G7) dan Uni Eropa (UE) tengah membahas potensi perubahan batas harga untuk ekspor minyak Rusia dengan menerapkan larangan penuh terhadap layanan maritim. Kebijakan tersebut berpotensi mengurangi suplai dari Rusia, produsen minyak terbesar kedua di dunia. Di sisi lain, lambatnya kemajuan pembicaraan damai Rusia–Ukraina juga memberi dorongan tambahan bagi kenaikan harga minyak.
Sementara itu, meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan kembali memangkas suku bunga pada pertemuan kebijakan minggu ini menekan nilai Dolar AS (USD) hingga berada di dekat level terendah sejak akhir Oktober. Pelemahan dolar biasanya menguntungkan komoditas berdenominasi USD, termasuk minyak, sehingga dapat menopang harga dan membatasi potensi penurunan lebih dalam—faktor yang perlu diwaspadai oleh pelaku pasar yang bersikap bearish.
Namun, peluang kenaikan minyak masih tertahan oleh kekhawatiran baru terkait potensi surplus pasokan global. Dalam laporan bulanan terbarunya, OPEC menyebutkan bahwa pasokan minyak dunia kemungkinan melampaui permintaan pada 2026, seiring kenaikan produksi dari negara-negara anggota OPEC+, termasuk Rusia. Selain itu, tanda-tanda peningkatan stok minyak mentah AS turut menekan ruang bagi kenaikan harga lebih lanjut.
Dari perspektif teknikal, penembusan harga di atas Simple Moving Average (SMA) 50 hari pada Jumat lalu menjadi sinyal penting bagi trader yang bersikap bullish. Kondisi ini menunjukkan kecenderungan arah pergerakan minyak yang lebih mengarah ke atas, dan bahwa setiap koreksi penurunan yang signifikan berpotensi menjadi peluang beli.
sumber : fxstreet
Bagikan Berita Ini