• company.vifxjogja@gmail.com
  • (0274) 2924181
News Photo

Kenaikan Harga Emas Berlanjut, Data PCE Jadi Penentu Arah Pasar

Harga emas menguat pada perdagangan Kamis (4/12/2025), meskipun kenaikan imbal hasil (yield) obligasi Amerika Serikat (AS) menahan sentimen positif yang muncul akibat melemahnya dolar. Menurut laporan Reuters, pelaku pasar kini menunggu data inflasi AS, yaitu Personal Consumption Expenditures (PCE), yang akan menjadi indikator penting bagi arah kebijakan suku bunga The Fed menjelang pertemuan Desember.

Emas tercatat naik 0,14% dan ditutup pada level US$ 4.208,6 per ons.

Analis Marex, Edward Meir, mengatakan bahwa kenaikan yield obligasi memberikan tekanan pada harga emas. “Yield yang lebih tinggi membatasi ruang kenaikan emas, meski pelemahan indeks dolar memberi sedikit penopang,” ujarnya.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun mengalami kenaikan, sementara indeks dolar AS turun ke level terendah satu bulan. Kondisi tersebut membuat emas lebih menarik bagi pembeli internasional.

Data terbaru menunjukkan klaim tunjangan pengangguran AS turun menjadi 191.000, level terendah dalam lebih dari tiga tahun dan jauh di bawah proyeksi ekonom yang memperkirakan 219.000 klaim.

Namun, laporan ADP sehari sebelumnya menunjukkan penurunan 32.000 pada payroll sektor swasta untuk bulan November—penurunan terdalam dalam sekitar dua setengah tahun.

Survei Reuters terhadap lebih dari 100 ekonom memperkirakan The Fed akan menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada pertemuan 9–10 Desember. Pemangkasan suku bunga umumnya menjadi sentimen positif bagi aset yang tidak menawarkan imbal hasil, seperti emas.

Pasar kini menantikan rilis data PCE bulan September yang akan dirilis Jumat (5/12/2025). PCE merupakan indikator inflasi favorit The Fed dan sangat memengaruhi arah kebijakan moneter.

Meir memperkirakan pergerakan harga emas akan tetap terbatas hingga pekan depan. Ia menilai pasar, termasuk emas, cenderung berada pada fase perdagangan yang tenang menjelang pertemuan The Fed.

“Saya tidak melihat peluang emas untuk kembali menguji level tertingginya di hampir US$ 4.400 tahun ini,” kata Meir.

Di pasar logam mulia lainnya, harga perak merosot 2,35% dan ditutup di US$ 57,1 setelah sempat menyentuh rekor tertinggi US$ 58,95 pada Rabu (3/12/2025). Sepanjang tahun ini, perak sudah melonjak sekitar 97,3%, didorong oleh defisit pasokan struktural, kekhawatiran terkait likuiditas pasar, serta masuknya perak ke dalam daftar mineral kritis AS.

sumber : investor.id

Bagikan Berita Ini

Komentar

Apakah Anda ingin mendapatkan layanan berkualitas kami untuk Investasi?