• company.vifxjogja@gmail.com
  • (0274) 2924181
News Photo

Emas Rebound di Tengah Ketidakpastian Global dan Ancaman Konflik Baru

Harga emas dunia kembali menguat pada Kamis (23/10/2025) setelah mengalami penurunan selama dua hari berturut-turut. Penguatan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global yang membuat investor kembali mencari aset aman (safe haven).

Mengutip laporan Reuters, para pelaku pasar kini menanti data inflasi Amerika Serikat (AS) yang akan dirilis pada Jumat (24/10/2025).

Harga emas spot ditutup naik 0,67% ke level US$ 4.125,94 per troy ons, setelah sempat menyentuh posisi terendah dalam dua pekan terakhir.
Pada awal pekan, logam mulia ini sempat menembus rekor tertinggi sepanjang masa di level US$ 4.381,18 per ons, namun kemudian anjlok tajam—mencatat penurunan harian terbesar dalam lima tahun terakhir.

“Faktor-faktor fundamental yang menopang reli harga emas tahun ini masih sangat kuat. Investor memanfaatkan penurunan harga untuk kembali membeli, ditambah ketegangan geopolitik yang kembali meningkat,” jelas Peter Grant, Wakil Presiden sekaligus Analis Senior Logam di Zaner Metals.

Sejak awal tahun 2025, harga emas telah naik sekitar 57%. Kenaikan ini didorong oleh eskalasi geopolitik, ketidakpastian ekonomi global, ekspektasi pemangkasan suku bunga, serta pembelian emas yang terus dilakukan oleh bank-bank sentral dunia.

Presiden AS Donald Trump pada Rabu (22/10/2025) mengumumkan sanksi baru terhadap Rusia terkait konflik di Ukraina. Sanksi tersebut menargetkan dua raksasa minyak Rusia, yakni Lukoil dan Rosneft.
Selain itu, pemerintahan Trump juga dikabarkan sedang mempertimbangkan pembatasan ekspor berbagai produk berbasis perangkat lunak ke China, sebagai respons terhadap kebijakan Beijing yang membatasi ekspor logam tanah jarang (rare earth).

Kini perhatian pasar tertuju pada data Consumer Price Index (CPI) AS yang akan diumumkan Jumat (24/10/2025). Data inflasi tersebut menjadi acuan penting bagi Federal Reserve (The Fed) menjelang rapat kebijakan moneter pekan depan. Analis memperkirakan inflasi inti AS tetap berada di kisaran 3,1% pada September.

Pelaku pasar juga memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin, dengan kemungkinan pemangkasan tambahan pada Desember. Dalam situasi suku bunga rendah, emas yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset) biasanya menjadi pilihan menarik bagi investor.

JP Morgan memperkirakan harga emas bisa mencapai rata-rata US$ 5.055 per troy ons pada kuartal IV tahun 2026, dengan asumsi permintaan investor dan pembelian oleh bank sentral tetap berada di kisaran 566 ton per kuartal pada tahun mendatang.

sumber : investor.id

Bagikan Berita Ini

Komentar

Apakah Anda ingin mendapatkan layanan berkualitas kami untuk Investasi?