• company.vifxjogja@gmail.com
  • (0274) 2924181
News Photo

Emas Ngacir! Gara-gara Israel vs Iran, Harga Makin Gila

Harga emas dunia terus menunjukkan penguatan signifikan. Tak butuh waktu lama bagi logam mulia ini untuk kembali mendekati level US$3.500 per troy ons, terutama karena meningkatnya ketegangan antara Israel dan Iran yang mendorong investor memburu aset safe haven.

Pada perdagangan Senin pagi (16/6) pukul 06.25 WIB, harga emas spot naik 0,38% menjadi US$3.445,14 per troy ons. Sebelumnya pada Jumat (13/6), harga emas menguat 1,42% ke US$3.432,18 per troy ons. Kenaikan ini menandai reli tiga hari berturut-turut dengan total penguatan 3,3%. Harga penutupan terakhir ini juga mencatat rekor tertinggi sepanjang sejarah, mengungguli level tertinggi sebelumnya US$3.424,30 pada 21 April 2025.

Namun, bila dilihat dari pergerakan intraday, harga emas pada Jumat sempat menyentuh US$3.446,2 per troy ons—hanya selisih sedikit dari rekor intraday tertinggi sepanjang masa di US$3.500,05 yang tercapai pada 22 April 2025.

Lonjakan harga ini dipicu aksi beli besar-besaran oleh investor setelah Israel melakukan serangan udara ke Iran, memunculkan kekhawatiran akan perluasan konflik di kawasan Timur Tengah. Daniel Pavilonis, analis dari RJO Futures, menyebut pasar bereaksi atas potensi balasan dari Iran sehingga emas tetap diburu sebagai pelindung nilai.

Pada Minggu malam, ketegangan meningkat ketika Israel dan Iran kembali saling menyerang. Presiden AS Donald Trump mengklaim konflik bisa diselesaikan dengan mudah, namun memperingatkan Teheran untuk tidak menyerang kepentingan AS. Iran melaporkan 78 korban jiwa pada hari pertama serangan Israel, dengan jumlah yang bertambah pada hari kedua, termasuk 29 anak-anak yang tewas akibat rudal yang menghantam apartemen 14 lantai di Teheran. Kilang minyak Shahran dan gedung Kementerian Pertahanan Iran juga menjadi sasaran, meski situasi disebut terkendali.

Di pihak Israel, serangan balasan Iran terjadi Sabtu malam (2000 GMT), mengakibatkan sirene berbunyi di Yerusalem dan Haifa, membuat sekitar satu juta warga mengungsi ke tempat perlindungan. Kelompok Houthi di Yaman turut mengklaim serangan rudal ke wilayah Jaffa di Israel tengah.

Selain faktor geopolitik, kondisi ekonomi AS juga turut mendorong harga emas. Inflasi yang lebih rendah dari ekspektasi menambah sentimen positif. Inflasi tahunan AS per Mei 2025 tercatat 2,4%, sedikit naik dari April tapi masih di bawah perkiraan 2,5%. Sementara itu, indeks harga produsen (PPI) hanya naik tipis 2,6%, tertahan oleh turunnya biaya jasa.

Emas batangan tetap menjadi aset favorit saat terjadi gejolak ekonomi dan politik, apalagi dalam situasi suku bunga rendah. Goldman Sachs memperkirakan harga emas dapat mencapai US$3.700 per troy ons di akhir 2025 dan menyentuh US$4.000 pada pertengahan 2026. Bank of America juga memperkirakan target US$4.000 dapat tercapai dalam 12 bulan ke depan.

Namun, permintaan emas fisik di Asia cenderung menurun pekan ini, termasuk di India yang mencatat lonjakan harga hingga melewati 100.000 rupee per 10 gram.

Fokus investor kini tertuju pada kebijakan suku bunga The Federal Reserve yang akan diumumkan pekan ini. Jika The Fed memberi sinyal pemangkasan suku bunga, harga emas berpotensi naik lebih tinggi.

CNBC

Bagikan Berita Ini

Komentar

Apakah Anda ingin mendapatkan layanan berkualitas kami untuk Investasi?