• company.vifxjogja@gmail.com
  • (0274) 2924181
News Photo

Harga Minyak Dunia Berpotensi Sideways di Tengah Ketidakpastian Pasokan

Harga minyak mentah dunia bergerak stagnan pada perdagangan Selasa pagi waktu Indonesia, setelah mengalami kenaikan selama dua hari berturut-turut. Para investor kini bersikap hati-hati, mencermati kemungkinan tercapainya kesepakatan gencatan senjata antara Rusia dan Ukraina, serta perkembangan negosiasi nuklir antara Amerika Serikat dan Iran yang berpotensi berujung pada pelonggaran sanksi ekspor minyak Iran.

Mengutip data CNBC, minyak Brent untuk pengiriman Juli ditutup pada harga US$65,44 per barel di New York pada Senin malam, hampir sama seperti hari sebelumnya. Sementara itu, minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) naik tipis sebesar 13 sen menjadi US$62,82 per barel.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyampaikan bahwa Rusia dan Ukraina tengah membuka peluang untuk memulai negosiasi gencatan senjata. Namun, Trump juga menyiratkan bahwa AS kemungkinan tidak akan terlibat secara langsung dalam proses tersebut. Situasi ini membuat pelaku pasar mengambil sikap menunggu, mengingat kedua negara merupakan pemain besar dalam sektor energi global.

Di sisi lain, Iran menegaskan posisi tegasnya dalam perundingan nuklir. Pemerintah Teheran menyatakan bahwa kapasitas pengayaan uraniumnya bukan hal yang bisa dinegosiasikan, yang menjadi tantangan besar bagi Amerika Serikat. Jika tidak ada kesepakatan, sanksi atas ekspor minyak Iran akan tetap berlaku. Namun jika tercapai kesepakatan, pasar bisa mengalami lonjakan pasokan baru dari Iran.

Sebelumnya, harga minyak global sempat pulih sebagian selama bulan Mei, setelah Brent sempat terperosok hingga hampir 16% sepanjang April. Pemulihan ini dipicu oleh membaiknya hubungan dagang antara Amerika Serikat dan China, yang sempat membangkitkan harapan terhadap meningkatnya permintaan global. Namun, potensi tambahan pasokan dari Iran atau Rusia bisa mengganggu keseimbangan pasar, terutama karena permintaan belum cukup kuat untuk menyerap kelebihan pasokan tersebut.

Dalam laporan minggu lalu, Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan bahwa permintaan minyak global akan melambat pada paruh kedua tahun 2025, seiring melambatnya pertumbuhan industri dan akselerasi transisi ke energi bersih di kawasan Eropa dan Asia.

Hingga situasi geopolitik dan negosiasi nuklir menjadi lebih jelas, harga minyak Brent diprediksi akan bergerak dalam kisaran US$64-66 per barel dengan kecenderungan datar. Sedangkan WTI masih mencari momentum untuk kembali menembus level US$63 per barel.

CNBC

 

Bagikan Berita Ini

Komentar

Apakah Anda ingin mendapatkan layanan berkualitas kami untuk Investasi?