• company.vifxjogja@gmail.com
  • (0274) 2924181
News Photo

Trump Naikkan Tarif, China Balas dengan Kenaikan Tarif Juga!

Ketegangan perdagangan antara China dan Amerika Serikat (AS) semakin meningkat. Hal ini disebabkan oleh tindakan saling mengenakan tarif yang dikhawatirkan dapat mengganggu perdagangan global. Pada Rabu (9/4), Presiden AS Donald Trump mengumumkan tarif balasan hingga 125% untuk barang-barang dari China, setelah Beijing mengenakan tarif hingga 84% pada barang-barang AS.

Trump telah lama menuduh negara lain, terutama China, mengeksploitasi AS dalam perdagangan. Ia percaya bahwa kebijakan proteksionisnya diperlukan untuk menghidupkan kembali sektor manufaktur domestik dan menciptakan lapangan kerja di Amerika.

Sejarah Perang Tarif AS-China Pada 3 Februari, Trump mengenakan tarif tambahan sebesar 10% untuk semua barang dari China. Kemudian, pada 5 Maret, tarif tersebut meningkat menjadi 20%, dan pada 2 April, tarifnya kembali naik menjadi 54%. Pada 4 April, China merespons dengan mengenakan tarif timbal balik sebesar 34% untuk barang-barang AS. Trump kemudian mengancam akan mengenakan tarif tambahan sebesar 50% jika China tidak menarik kembali tarifnya sebelum 8 April 2025. Namun, Beijing justru menaikkan tarifnya menjadi 84%, yang memicu Trump untuk meningkatkan tarif menjadi 125%.

Tanggapan China Dalam pengumuman tarif terbaru pada 9 April, Kementerian Perdagangan China menyatakan bahwa mereka memiliki tekad dan sumber daya untuk mengambil tindakan balasan yang diperlukan. Mereka menegaskan bahwa kenaikan tarif AS tidak akan menyelesaikan masalah, melainkan akan menyebabkan fluktuasi di pasar keuangan dan meningkatkan risiko resesi ekonomi di AS.

Dampak Tarif pada Ekonomi China Meskipun ketegangan meningkat, AS dan China tetap menjadi mitra dagang utama. Pada tahun lalu, AS mengimpor barang dari China senilai US$ 438,9 miliar, yang setara dengan sekitar 3% dari PDB China. Goldman Sachs memperkirakan bahwa tarif terbaru Trump dapat menurunkan PDB China hingga 2,4%. Analis UBS bahkan lebih pesimis, memprediksi pertumbuhan ekonomi China hanya akan mencapai 4% pada tahun 2025.

Langkah China Selanjutnya Profesor ekonomi Jayanti Ghosh dari Universitas Massachusetts Amherst menyatakan bahwa China mungkin akan fokus pada stimulus domestik dan memperkuat hubungan dengan mitra dagangnya untuk mencapai target pertumbuhan sekitar 5%. Ia juga memperkirakan penurunan suku bunga dan peningkatan pinjaman oleh pemerintah daerah untuk mendukung sektor yang terdampak.

CNBC

Bagikan Berita Ini

Komentar

Apakah Anda ingin mendapatkan layanan berkualitas kami untuk Investasi?