• company.vifxjogja@gmail.com
  • (0274) 2924181
News Photo

Penurunan Harga Emas di Tengah Kekhawatiran Perang Dagang

Setelah mencapai puncaknya, harga emas mengalami penurunan sejenak. Ironisnya, kecemasan terkait perang dagang justru mendorong sebagian pelaku pasar untuk mengambil keuntungan dari emas setelah mencetak rekor baru. Pada hari Selasa (11/2), harga emas dunia di pasar spot turun 0,34% menjadi US$2.897,56 per troy ons. Sebelum penurunan ini, harga emas sempat mencapai rekor baru pada perdagangan intraday di level US$2.942,7 per troy ons. Penurunan ini juga membuat emas kembali jatuh dari level US$ 2.900 per troy ons.

Emas mencapai puncaknya pada perdagangan hari Senin minggu ini. Sebelumnya, harga emas juga mencetak rekor selama lima hari berturut-turut pada tanggal 30-31 Januari dan 3-5 Februari 2025. Pada hari Rabu (12/2), harga emas hampir tidak berubah, pada pukul 06.06 WIB, harga emas dunia di pasar spot naik 0,01% menjadi US$2.897,92 per troy ons.

Harga emas turun pada perdagangan kemarin karena sebagian pelaku pasar memilih untuk mengambil keuntungan dengan menjual emas setelah mencapai rekor tertinggi. Namun, sebagian pelaku pasar lainnya tetap optimis bahwa harga emas akan terus meningkat di tengah kekhawatiran perang dagang global yang dipicu oleh tarif baru yang diberlakukan oleh Presiden AS Donald Trump.

Trump telah meningkatkan tarif impor baja dan aluminium menjadi 25% "tanpa pengecualian atau pembebasan", langkah yang diharapkan dapat membantu industri yang sedang berjuang di Amerika Serikat (AS), tetapi juga berpotensi memicu perang dagang multi-front.

Para pedagang menunggu data inflasi AS yang akan dirilis pada hari Rabu malam ini untuk mendapatkan petunjuk baru tentang prospek suku bunga di ekonomi terbesar di dunia tersebut. Jajak pendapat Reuters menunjukkan bahwa The Federal Reserve (The Fed) diperkirakan akan menunggu hingga kuartal berikutnya sebelum memotong suku bunga lagi. Tarif dapat memicu inflasi AS dan menunda pemotongan suku bunga.

Pada hari Selasa (12/2) waktu AS, Ketua The Fed memberikan testimoni tahunan di depan anggota Senat Komite Perbankan, Perumahan, dan Urusan Urban. Powell juga akan memberikan pernyataan serupa di depan Anggota DPR Komite Jasa Keuangan pada hari ini, Rabu (12/2).

Powell juga menghadapi serangkaian pertanyaan tentang Biro Perlindungan Keuangan Konsumen, tarif, dan Departemen Efisiensi Pemerintah milik Elon Musk. Ada beberapa poin penting dari testimoni Powell, terutama penegasan The Fed bahwa mereka tidak akan terburu-buru untuk memotong suku bunga dalam waktu dekat.

"Dengan posisi kebijakan kami yang sekarang jauh lebih tidak restriktif dibandingkan sebelumnya dan ekonomi yang tetap kuat, kami tidak perlu terburu-buru untuk menyesuaikan posisi kebijakan kami," kata Powell, dikutip dari CNBC International.

Komentar Powell ini membuat pelaku pasar yakin bahwa suku bunga tidak akan dipotong terlalu cepat. Kondisi ini tentu merugikan emas. "Angka inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat memperpanjang jeda suku bunga oleh The Fed, yang dapat menyebabkan kinerja emas menjadi moderat dalam jangka pendek," kata Ryan McIntyre, manajer portofolio senior di Sprott Asset Management, kepada Reuters.

Emas batangan dianggap sebagai nilai lindung terhadap inflasi, tetapi suku bunga yang lebih tinggi melemahkan daya tarik aset yang tidak memberikan imbal hasil tersebut.

CNBC

Bagikan Berita Ini

Komentar

Apakah Anda ingin mendapatkan layanan berkualitas kami untuk Investasi?