Penurunan harga minyak yang dipicu oleh data inflasi China yang tidak memuaskan dan ketidakpastian terkait rencana stimulus ekonomi. Pada perdagangan Senin (14/10), harga minyak mentah Brent dan West Texas Intermediate (WTI) tercatat turun 1,51% dan 1,44% masing-masing. Meski ada kekhawatiran terkait potensi gangguan produksi minyak akibat konflik Israel-Iran, berita negatif dari China tampak lebih berpengaruh.
Data menunjukkan bahwa tekanan deflasi di China semakin memburuk pada bulan September. Indeks harga konsumen naik 0,4%, namun masih di bawah ekspektasi, sementara indeks harga produsen turun 2,8% year-on-year. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi dan semangat konsumen di China.
Pada hari Sabtu, Beijing mengumumkan akan meningkatkan penerbitan utang, namun tidak memberikan angka pasti. Hal ini menambah ketidakpastian di pasar. Di sisi lain, AS memperluas sanksi terhadap Iran sebagai respons terhadap serangan Iran terhadap Israel. Sanksi ini ditujukan kepada "armada hantu" yang mengangkut pasokan minyak ilegal.
Di pasar AS, perusahaan energi menambah rig minyak dan gas alam untuk pertama kalinya dalam empat minggu terakhir. Jumlah rig minyak dan gas, yang merupakan indikator awal produksi di masa depan, naik satu menjadi 586 pada pekan yang berakhir 11 Oktober.
Badai Milton meningkatkan permintaan jangka pendek di AS karena evakuasi mendukung konsumsi bensin. Namun, permintaan yang lemah masih mendominasi prospek fundamental. BP, perusahaan minyak besar, melaporkan penurunan laba kuartal ketiga sebesar $600 juta karena margin penyulingan yang lemah di tengah penurunan penggunaan minyak global.
Bagikan Berita Ini