Fluktuasi mata uang Asia terhadap dolar AS menjadi sorotan saat semua mata acara menunggu data pertumbuhan ekonomi AS final untuk kuartal kedua tahun 2024. Menurut laporan dari CNBC, mata uang Asia menunjukkan pergerakan yang beragam dengan kecenderungan melemah pada perdagangan hari ini. Rupiah Indonesia mengalami penurunan paling tajam sebesar 0,56%, diikuti oleh peso Filipina dan yen Jepang. Sebaliknya, won Korea Selatan, yuan China, dan baht Thailand menunjukkan peningkatan. Indeks dolar AS sedikit menguat sebesar 0,01% ke angka 100,93.
Kejatuhan rupiah ini bertolak belakang dengan kondisi pekan lalu di mana rupiah menjadi mata uang terkuat di Asia. Data final pertumbuhan ekonomi atau PDB AS untuk kuartal kedua tahun 2024 menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Pasar memperkirakan PDB AS meningkat dari 1,4% menjadi 3%. Jika PDB AS tumbuh lebih tinggi dari perkiraan, maka dolar AS berpotensi menguat dan mata uang Asia akan mengalami tekanan.
Selain itu, pidato dari beberapa pejabat bank sentral AS (The Fed) juga menjadi perhatian. Hari ini, beberapa pejabat The Fed akan memberikan pidatonya, termasuk Ketua The Fed Jerome Powell yang akan memberikan petunjuk lebih lanjut tentang suku bunga di masa mendatang.
Untuk rupiah, ekonom menilai penurunan ini terjadi karena aksi profit taking. Ahmad Mikail, ekonom Sucor Sekuritas, dan Hosianna Situmorang, ekonom Bank Danamon, berpendapat bahwa pelemahan ini adalah sentimen jangka pendek dan mereka memperkirakan rupiah akan menguat di masa mendatang.
Bagikan Berita Ini