Selama minggu lalu, harga emas menunjukkan pergerakan yang menarik, namun pada hari Senin (9/9), terjadi penurunan hingga di bawah US$ 2.500 per troy ons. Data dari CNBC menunjukkan bahwa pada penutupan perdagangan Jumat (6/9), harga emas di pasar spot mencapai US$ 2.516,36 per troy ons, naik sedikit 0,01% dari hari sebelumnya. Kenaikan ini merupakan yang ketiga secara beruntun dalam minggu tersebut, dengan total kenaikan sebesar 0,53% dalam seminggu, meski masih di bawah rekor tertinggi yang pernah dicapai pada 27 Agustus di posisi US$ 2.524,57 per troy ons.
Pada Senin pagi, harga emas dunia mulai menunjukkan penurunan, menjauh dari level US$ 2.500 per troy ons, turun 0,75% menjadi US$ 2497,49 per troy ons. Penurunan ini diduga sebagai respons terhadap kebijakan Bank Sentral China yang telah menahan pembelian emas untuk cadangannya selama empat bulan berturut-turut hingga Agustus. Cadangan emas China mencapai 72,8 juta troy ons pada akhir bulan lalu, dengan nilai cadangan emas naik menjadi $182,98 miliar, naik dari $176,64 miliar pada akhir Juli.
Bank Sentral China, yang telah membeli emas selama 18 bulan berturut-turut sebelum menghentikan pembeliannya, adalah pembeli emas terbesar di dunia sepanjang 2023. Keputusannya untuk menunda pembelian telah membantu meredam permintaan investor China dalam beberapa bulan terakhir. Meski demikian, analis Julius Baer, Carsten Menke, memperkirakan bahwa Bank Sentral China akan melanjutkan pembelian emas di beberapa titik meskipun harga tinggi, karena motivasi politik, bukan ekonomi.
Permintaan emas di masa depan diperkirakan masih akan meningkat karena nilai jual yang akan lebih rendah seiring dengan penurunan indeks dolar mendekati pemangkasan suku bunga AS setelah rilis data pasar tenaga kerja yang tidak sesuai ekspektasi. Data Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan penambahan lapangan pekerjaan non-pertanian sebanyak 142.000 pada Agustus, di bawah perkiraan 160.000, sementara angka Juli juga direvisi turun menjadi 89.000. Tingkat pengangguran berada di 4,2%, sesuai dengan ekspektasi namun turun dari 4,3% bulan sebelumnya.
Bagikan Berita Ini