Kemarin, Rabu (7/8), harga minyak mentah melonjak lebih dari 2% seiring dengan data penurunan stok minyak mentah Amerika Serikat (AS) yang melebihi ekspektasi. Menurut data dari CNBC, harga minyak mentah jenis Brent kemarin ditutup di US$ 78,83 per barel, naik 2,42% dalam sehari. Sementara itu, minyak jenis WTI juga naik 2,93% ke posisi US$ 76,41 per barel.
Pada pagi ini, Kamis (8/8) pukul 07.10 WIB, harga minyak mentah masih terlihat kembali menguat. Jenis WTI dan Brent sama-sama menguat di kisaran 0,3%. Menurut Reuters, stok minyak AS telah menurun selama enam minggu berturut-turut, turun 3,7 juta barel menjadi 429,3 juta barel pada minggu lalu.
Hal ini melebihi ekspektasi analis dalam survei Reuters untuk penurunan 700.000 barel. Phil Flynn, seorang analis di Price Futures Group, mengatakan "Situasi ini benar-benar menunjukkan bahwa permintaan lebih kuat dari yang diperkirakan orang dan pasokan secara keseluruhan lebih ketat".
Ia menambahkan "Pasokan minyak mentah saat ini di bawah rata-rata". Kekhawatiran akan kekurangan pasokan semakin meningkat dengan penurunan produksi di ladang minyak Sharara di Libya yang memproduksi 300.000 barel per hari (bpd).
Perusahaan Minyak Nasional Libya mengumumkan pada hari Selasa lalu bahwa mereka akan mulai mengurangi produksi secara bertahap di ladang minyak Sharara karena adanya protes. Tim Snyder, kepala ekonom di Matador Economics, juga memberikan pendapatnya terkait pemulihan harga minyak dalam dua hari ini yang terjadi setelah koreksi tajam pada Senin, yang hanya merupakan kemarahan singkat dan bukan kejatuhan pasar.
"Pemulihan yang kita lihat dari penurunan besar pada hari Senin menunjukkan bahwa itu adalah kemarahan yang sangat singkat dan bukan kejatuhan pasar," jelasnya.
Bagikan Berita Ini