Harga Minyak Mentah AS jenis West Texas Intermediate (WTI) bergerak melemah tipis pada perdagangan Jumat siang, sekitar pukul 13.25 WIB. Pelemahan ini memangkas sebagian penguatan tajam yang terjadi sehari sebelumnya, setelah harga sempat menyentuh level terendah sejak 19 Desember 2025 di awal pekan. Saat ini, WTI diperdagangkan di kisaran US$ 58,19 per barel, turun lebih dari 0,80% secara harian, dan masih tertahan di bawah level resistensi utama Simple Moving Average (SMA) 50 hari.
Sebelumnya, harga minyak memperoleh dorongan kuat pada Rabu setelah data pemerintah AS menunjukkan persediaan minyak mentah turun jauh lebih besar dari perkiraan, yakni sebesar 3,8 juta barel pada pekan yang berakhir 2 Januari. Penurunan tersebut menjadi yang terbesar sejak akhir Oktober dan, bersamaan dengan meningkatnya risiko geopolitik serta kekhawatiran gangguan pasokan, memicu aksi short covering yang agresif di pasar minyak mentah. Namun, reli tersebut gagal berlanjut seiring munculnya ekspektasi bahwa kontrol AS terhadap minyak Venezuela berpotensi meningkatkan pasokan global.
Laporan Wall Street Journal (WSJ) menyebutkan bahwa Presiden AS Donald Trump tengah menyiapkan langkah untuk mengendalikan industri minyak Venezuela dalam beberapa tahun ke depan, dengan tujuan menekan harga minyak ke kisaran US$ 50 per barel. Laporan tersebut juga mengungkapkan bahwa pemerintahan Trump mempertimbangkan pengambilalihan kendali atas perusahaan minyak milik negara Venezuela, Petróleos de Venezuela SA (PdVSA). Selain itu, Trump sebelumnya menyatakan bahwa Venezuela akan menyerahkan sekitar 30 juta hingga 50 juta barel minyak berkualitas tinggi yang saat ini dikenai sanksi kepada Amerika Serikat.
Di sisi lain, kekhawatiran terhadap melemahnya permintaan bahan bakar global serta penguatan Dolar AS (USD), yang mencapai level tertinggi hampir satu bulan pada Kamis, turut menekan pergerakan harga minyak dan membatasi kelanjutan kenaikan sebelumnya. Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian ke rilis data Nonfarm Payrolls (NFP) AS, yang diharapkan dapat memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan pemangkasan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Prospek tersebut diperkirakan akan memengaruhi pergerakan USD dalam jangka pendek dan berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap komoditas berdenominasi dolar, termasuk harga minyak mentah.
sumber : fxstreet
Bagikan Berita Ini