• company.vifxjogja@gmail.com
  • (0274) 2924181
News Photo

Emas Melanjutkan Tren Penguatan Pasca Reli 2025

Harga emas kembali menguat pada perdagangan Jumat (2/1/2026), melanjutkan tren penguatan signifikan yang terjadi sepanjang 2025. Meningkatnya ketegangan geopolitik global serta harapan pasar terhadap pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) terus menopang permintaan emas sebagai aset lindung nilai.

Harga emas spot tercatat naik 0,49% dan ditutup di level US$ 4.331,31 per ons. Sepanjang 2025, emas membukukan lonjakan tajam sekitar 64% dan sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di US$ 4.549,56 per ons pada 26 Desember 2025.

Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities, Bart Melek, menyatakan bahwa pelaku pasar masih mengantisipasi kemungkinan pemangkasan suku bunga acuan The Fed mulai Maret, dengan peluang pelonggaran lanjutan hingga akhir tahun.

“Ekspektasi penurunan suku bunga The Fed, kekhawatiran terkait tarif perdagangan, serta isu keberlanjutan utang Amerika Serikat terus mendorong minat investor terhadap emas dan logam mulia lainnya,” ujar Melek, dikutip dari CNBC Internasional.

Prospek suku bunga yang lebih rendah membuat emas—yang tidak memberikan imbal hasil bunga—menjadi semakin menarik. Ketika imbal hasil aset berbunga menurun, daya tarik emas sebagai penyimpan nilai cenderung menguat.

Selain faktor kebijakan moneter, ketidakpastian geopolitik juga menjadi katalis utama penguatan emas. Ketegangan di Iran, belum adanya titik temu dalam konflik Rusia–Ukraina, serta perang yang masih berlangsung di Gaza mempertegas posisi emas sebagai aset safe haven.

Dari sisi teknikal, analis senior Kitco Metals Jim Wyckoff menilai ruang penguatan emas masih terbuka. Ia menyebut target selanjutnya adalah kemampuan kontrak emas Februari untuk bertahan dan ditutup di atas area resistensi kuat di level rekor tertinggi kontrak, yakni sekitar US$ 4.584 per ons.

Sementara itu, pasar emas fisik di India dan China mulai menunjukkan pemulihan. Untuk pertama kalinya dalam hampir dua bulan, emas fisik di kedua negara tersebut diperdagangkan dengan premi, menandakan meningkatnya kembali permintaan dari dua konsumen emas terbesar dunia.

Meski pergerakan emas relatif stabil, logam mulia lain mencatatkan penguatan lebih agresif. Harga perak naik 0,7% dan ditutup di US$ 72,53 per ons. Namun demikian, emas tetap menjadi fokus utama investor karena perannya sebagai aset lindung nilai paling dominan di tengah ketidakpastian global.

Meski demikian, setelah reli kuat di penghujung tahun, seluruh logam mulia termasuk emas masih berpotensi mengalami koreksi mingguan dalam jangka pendek.

sumber : investor.id

Bagikan Berita Ini

Komentar

Apakah Anda ingin mendapatkan layanan berkualitas kami untuk Investasi?