Harga emas global berhasil menembus level psikologis US$ 4.400 per ons, dengan tren penguatan yang dinilai masih memiliki peluang berlanjut. Kuatnya permintaan terhadap aset lindung nilai di tengah ketidakpastian global menjadi faktor utama yang menopang pergerakan logam mulia ini.
Pada perdagangan hari ini, harga emas tercatat melonjak sekitar 1,3% ke posisi US$ 4.401,72 per ons pada pukul 13.25 WIB. Sebelumnya, harga sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di level US$ 4.409,3 per ons.
Secara teknikal, struktur pergerakan emas masih menunjukkan fase bullish yang solid. Kombinasi pola candlestick dan indikator Moving Average mengindikasikan dominasi minat beli masih kuat, meskipun volatilitas jangka pendek tetap mewarnai pasar.
Menariknya, penguatan emas terjadi di tengah kenaikan imbal hasil obligasi dan penguatan dolar AS, yang menandakan permintaan safe haven masih cukup besar.
Dari perspektif teknikal, terdapat dua skenario yang menjadi perhatian pelaku pasar. Apabila tekanan bullish berlanjut, harga emas (XAUUSD) berpeluang melanjutkan reli menuju area US$ 4.425 dalam waktu dekat. Level tersebut menjadi target kenaikan terdekat selama sentimen risiko global dan ekspektasi kebijakan moneter tetap mendukung.
Namun, peluang koreksi juga tidak dapat dikesampingkan. Jika harga gagal mempertahankan momentum penguatan, area US$ 4.294 diperkirakan menjadi level support terdekat yang berpotensi diuji.
Kenaikan harga emas ini berlangsung di tengah minimnya agenda ekonomi Amerika Serikat serta menjelang berakhirnya pekan perdagangan resmi terakhir tahun ini menjelang libur Natal.
Sentimen pasar juga mendapat tambahan dukungan dari revisi turun Indeks Sentimen Konsumen Universitas Michigan untuk Desember, dari 53,3 menjadi 52,9, lebih rendah dari perkiraan pasar. Survei tersebut mencatat ekspektasi inflasi satu tahun meningkat menjadi 4,2%, sementara ekspektasi inflasi lima tahun tetap di 3,2%. Kondisi ini mencerminkan pandangan inflasi jangka panjang yang masih relatif tinggi namun stabil.
Di sisi lain, pernyataan sejumlah pejabat bank sentral sempat memicu volatilitas pasar. Presiden The Fed New York John Williams menyatakan belum melihat kebutuhan mendesak untuk mengubah kebijakan moneter. Nada pernyataan yang cenderung netral hingga hawkish tersebut sempat mendorong penguatan dolar AS dan menekan harga emas ke kisaran US$ 4.320, sebelum kembali menguat.
Tekanan tambahan juga datang dari kenaikan imbal hasil global seiring langkah Bank Sentral Jepang yang menaikkan suku bunga. Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun tercatat naik ke sekitar 4,147%, sementara imbal hasil riil AS meningkat menjadi 1,907%.
Meski menghadapi berbagai tekanan tersebut, harga emas tetap mampu bertahan dan kembali menguat. Hal ini menegaskan bahwa permintaan lindung nilai serta sentimen akhir tahun masih menjadi faktor utama penopang pergerakan emas.
Ke depan, pelaku pasar akan mencermati sejumlah data ekonomi penting AS pada pekan perdagangan yang lebih singkat menjelang Natal, seperti laporan ketenagakerjaan ADP, rilis awal pertumbuhan PDB kuartal III, data pesanan barang tahan lama, serta produksi industri.
Secara keseluruhan, prospek emas dalam jangka pendek masih condong positif. Tren bullish diperkirakan tetap terjaga selama level support utama mampu dipertahankan dan volatilitas akhir tahun tidak memicu perubahan signifikan pada sentimen pasar.
sumber : investor.id
Bagikan Berita Ini