• company.vifxjogja@gmail.com
  • (0274) 2924181
News Photo

Inflasi AS Diproyeksi Naik di September, The Fed Makin Waspada

Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) dijadwalkan merilis data Indeks Harga Konsumen (IHK) untuk bulan September pada Jumat pukul 12:30 GMT (19.30 WIB). Laporan inflasi ini menjadi sorotan utama pasar karena dianggap penting dalam menentukan arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) hingga akhir tahun.

Investor menanti indikasi baru mengenai dampak tarif impor yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump terhadap tekanan harga domestik. Rilis data IHK ini berpotensi menimbulkan volatilitas pada Dolar AS (USD), mengingat hasilnya dapat memengaruhi ekspektasi terhadap prospek suku bunga Fed di bulan-bulan mendatang.

Berdasarkan proyeksi pasar, inflasi tahunan AS diperkirakan naik menjadi 3,1% pada September, tertinggi sejak Mei 2024, setelah mencatat 2,9% pada Agustus.
Sementara itu, inflasi inti IHK—yang mengecualikan komponen harga pangan dan energi—diperkirakan tetap stabil di 3,1% secara tahunan (YoY). Secara bulanan, IHK umum diprediksi meningkat 0,4%, sedangkan IHK inti naik 0,3%.

Menurut analis dari TD Securities, laporan IHK September kemungkinan akan menunjukkan adanya perlambatan pada inflasi inti, terutama akibat penurunan harga sektor jasa, khususnya perumahan. Namun, mereka juga memperkirakan kenaikan harga barang sebagai imbas dari penerapan tarif baru.
“Inflasi inti yang tetap kuat kemungkinan membuat IHK utama bertahan di 0,4% bulan ke bulan, dengan lonjakan harga energi turut memberikan dorongan signifikan pada data September,” ujar mereka.

Menjelang rilis data tersebut, pelaku pasar semakin yakin bahwa The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) pada Oktober dan Desember mendatang. Berdasarkan data dari CME FedWatch Tool, pasar memperkirakan 97% peluang bahwa suku bunga acuan akan turun dari kisaran 4%-4,25% menjadi 3,5%-3,75% pada akhir tahun 2025.

Minimnya rilis data ekonomi penting akibat penutupan sebagian pemerintahan AS membuat angka inflasi bulan ini menjadi perhatian utama bagi para pembuat kebijakan The Fed. Meski mayoritas investor sudah memperkirakan pemangkasan suku bunga bulan Oktober, hasil IHK yang lebih tinggi dari ekspektasi—terutama pada inflasi inti bulanan—dapat memicu reaksi signifikan di pasar.


Jika angka inflasi bulanan mencapai 0,5%, hal ini bisa mendorong investor meninjau ulang kemungkinan pemangkasan suku bunga Desember dan memperkuat posisi USD terhadap mata uang lainnya. Sebaliknya, data yang sesuai ekspektasi atau lebih rendah kemungkinan tidak akan banyak mengubah pandangan pasar, karena posisi dolar saat ini dianggap sudah mendekati batas bawahnya.

Analis valas Antje Praefcke dari Commerzbank menilai, data harga kali ini bisa menunjukkan sejauh mana kebijakan tarif berdampak terhadap inflasi konsumen. Namun ia menambahkan:


“Laporan inflasi ini tampaknya tidak akan menjadi faktor penentu untuk keputusan Fed pekan depan. Sebagian besar anggota Fed beranggapan efek tarif terhadap inflasi bersifat sementara. Meskipun dolar menunjukkan penguatan menjelang rilis data, kejutan positif sekalipun tidak mungkin mengubah arah kebijakan pemangkasan suku bunga.”

Sementara itu, Eren Sengezer, analis utama sesi Eropa di FXStreet, memberikan pandangan teknikal terhadap Indeks Dolar AS (DXY). Ia menjelaskan bahwa prospek jangka pendek masih menunjukkan tren bullish. “Indeks RSI harian bergerak naik menuju level 60, sementara DXY tetap berada di atas garis SMA 20, 50, dan 100 hari,” ujarnya.


“Secara teknikal, area 99,50 menjadi resistensi terdekat yang bertepatan dengan level Fibonacci retracement 23,6% dari tren turun Januari–Juli. Jika harga menembus level itu, peluang terbuka menuju 100,00 dan 100,80 (SMA 200 hari). Sebaliknya, area 98,50 menjadi support awal, diikuti zona 98,10–98,00 (SMA 50 hari, SMA 100 hari, dan level psikologis), serta 96,40 sebagai batas bawah tren jangka menengah.”

sumber : fxstreet

Bagikan Berita Ini

Komentar

Apakah Anda ingin mendapatkan layanan berkualitas kami untuk Investasi?