• company.vifxjogja@gmail.com
  • (0274) 2924181
News Photo

The Fed Pertahankan Suku Bunga, Tetap Proyeksikan Dua Kali Pemangkasan di 2025

Bank Sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), kembali mempertahankan suku bunga acuannya pada kisaran 4,25–4,50% di bulan ini. The Fed masih memberikan sinyal akan ada dua kali penurunan suku bunga hingga akhir Desember 2025.

Keputusan ini diumumkan pada Rabu waktu AS atau Kamis dini hari waktu Indonesia (19 Juni). Ini menjadi kali keempat The Fed menahan suku bunga sejak terakhir kali memangkasnya pada Desember 2024.

Sebagai informasi, The Fed telah menaikkan suku bunga sebesar 525 basis poin (bps) sejak Maret 2022 hingga Juli 2023. Kemudian, suku bunga ditahan pada level 5,25–5,50% selama setahun lebih sejak September 2023 hingga Agustus 2024, sebelum diturunkan secara bertahap pada September, November, dan Desember 2024 dengan total pemangkasan 100 bps.

Dalam pernyataan resminya, The Fed memproyeksikan inflasi akan tetap tinggi dan laju pertumbuhan ekonomi cenderung melemah. Kendati demikian, proyeksi dot plot dari Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) menunjukkan masih ada harapan akan dua kali penurunan suku bunga tahun ini.

Namun, kini tujuh dari 12 anggota FOMC memperkirakan suku bunga tidak akan dipangkas sama sekali — jumlah ini meningkat dibandingkan empat anggota pada Maret lalu. Hal ini menandakan adanya perubahan pandangan dari sebagian anggota FOMC yang mulai meragukan kemungkinan pelonggaran suku bunga dalam waktu dekat.

Ketua The Fed, Jerome Powell, dalam konferensi pers usai rapat FOMC menyampaikan bahwa tarif perdagangan yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump berpotensi menaikkan inflasi. Namun hingga kini, dampaknya masih belum terlihat jelas.

“Kami masih harus mempelajari lebih lanjut bagaimana dampak tarif tersebut. Sulit untuk mengambil keputusan sebelum kita benar-benar memahami besarnya pengaruhnya,” kata Powell, dikutip dari CNBC International.

Sebagai catatan, inflasi tahunan AS naik menjadi 2,4% pada Mei 2025 dari 2,3% pada April, setelah Trump mengumumkan kebijakan tarif pada 2 April 2025.

Powell menyatakan bahwa inflasi akibat tarif mungkin hanya bersifat sementara, namun bisa juga berlangsung lebih lama. Ia menyebutkan bahwa tarif telah mulai mempengaruhi aktivitas ekonomi secara luas.

“Kami mulai melihat beberapa dampaknya. Inflasi barang mulai naik, dan kami memperkirakan tekanan harga ini akan makin terlihat sepanjang musim panas,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa banyak perusahaan mulai meneruskan beban tarif ini ke dalam rantai pasok, yang pada akhirnya membebani konsumen dengan harga barang yang lebih tinggi.

CNBC

Bagikan Berita Ini

Komentar

Apakah Anda ingin mendapatkan layanan berkualitas kami untuk Investasi?