Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada awal perdagangan hari ini, setelah dolar AS menunjukkan stabilitas seiring tercapainya kesepakatan kerangka kerja antara AS dan China dalam pelonggaran pembatasan ekspor.
Menurut data dari Refinitiv, pada pembukaan perdagangan Rabu (11/6), rupiah dibuka menguat tipis sebesar 0,03% ke level Rp16.260 per dolar AS. Sementara pada penutupan perdagangan Selasa (10/6), rupiah terapresiasi 0,03% di level Rp16.265 per dolar AS.
Indeks dolar AS (DXY) juga mengalami penguatan sebesar 0,02% ke angka 99,12 pada pukul 09.00 WIB hari ini. Sebelumnya, indeks ini naik 0,16% ke level 99,09.
Dolar AS tetap stabil terhadap sejumlah mata uang utama, termasuk rupiah, menyusul tercapainya kesepakatan antara AS dan China mengenai kerangka kerja perjanjian dagang. Kesepakatan ini dinilai sebagai langkah positif menuju penyelesaian perang dagang yang selama ini merugikan kedua negara dengan perekonomian terbesar di dunia.
Menteri Perdagangan AS, Howard Lutnick, menyampaikan bahwa pertemuan dua hari antara pejabat AS dan China di London telah menghasilkan kesepakatan untuk mengembalikan komitmen gencatan senjata dagang yang sebelumnya dicapai di Jenewa.
Kerangka kerja tersebut mencakup penyelesaian kebijakan pembatasan ekspor China terhadap mineral tanah jarang dan magnet, serta rencana penghapusan sebagian pembatasan ekspor yang diberlakukan AS dalam waktu dekat.
Ray Attrill, Kepala Strategi Valas di National Australia Bank, mengungkapkan bahwa yang paling penting saat ini adalah rincian dari kesepakatan tersebut, serta apakah hal ini dapat memulihkan kepercayaan antara Presiden Xi dan Presiden Trump, yang sempat terganggu sejak perjanjian Jenewa diumumkan.
Namun demikian, ia menekankan bahwa masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa kesepakatan ini akan mengarah pada terbentuknya perjanjian perdagangan baru yang kuat antara AS dan China.
Selama tahun ini, pasar global dibayangi oleh kekhawatiran akan dampak kebijakan Presiden AS Donald Trump yang cenderung tidak dapat diprediksi, yang dikhawatirkan dapat membawa ekonomi AS menuju resesi dan memperlambat pertumbuhan global.
Menurunnya kepercayaan investor terhadap aset-aset AS telah berdampak signifikan pada nilai dolar, yang tercatat melemah lebih dari 8% sepanjang tahun berjalan.
Pada hari ini, perhatian investor akan tertuju pada data inflasi konsumen AS yang akan dirilis, karena data ini diperkirakan dapat menunjukkan sejauh mana dampak ekonomi dari kebijakan tarif terhadap harga, serta menjadi salah satu indikator arah kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed) ke depan.
Diperkirakan, The Fed akan mempertahankan suku bunga acuan pada pertemuan pekan depan. Namun, pasar memperkirakan kemungkinan dua kali pemangkasan suku bunga sebesar masing-masing 25 basis poin hingga akhir tahun ini.
Bagikan Berita Ini