Harga emas mulai menunjukkan kenaikan kembali pada hari ini, meskipun masih dibayangi oleh volatilitas akibat berbagai faktor global, terutama konflik dagang.
Pada perdagangan hari Senin (19 Mei) hingga pukul 06.40 WIB, harga emas dunia di pasar spot naik 1,08% ke level US$3.236,9 per troy ons. Kenaikan ini menjadi angin segar setelah harga emas mengalami penurunan tajam pada pekan sebelumnya.
Pada perdagangan hari Jumat (16 Mei), harga emas anjlok 1,16% ke posisi US$3.202,29 per troy ons, dan saat ini harga berada di kisaran konsolidasi. Dalam sepekan, harga emas tercatat turun 3,67%, menjadi penurunan mingguan terburuk sejak pertengahan November 2024, saat itu harga turun lebih dari 4%.
Penurunan tajam harga emas minggu lalu dipicu oleh meningkatnya minat terhadap aset berisiko, menyusul mencairnya tensi dagang antara Amerika Serikat dan China. Hal ini menyebabkan para investor mengambil keuntungan dan memicu aksi jual besar-besaran di pasar emas berjangka.
Jim Wycoff, analis senior dari Kitco Metals, menjelaskan bahwa meredanya ketegangan dagang AS-China telah meningkatkan selera risiko di pasar secara umum. Kondisi ini menyebabkan arus keluar modal dari emas sebagai aset safe haven.
Selain itu, meredanya konflik antara India dan Pakistan turut memberikan tekanan pada harga emas. Ketika ketidakpastian mereda, investor cenderung beralih ke instrumen berisiko seperti saham dan kripto.
Emas batangan biasanya digunakan sebagai perlindungan terhadap ketidakstabilan ekonomi dan politik, serta cenderung menunjukkan performa yang baik dalam lingkungan suku bunga rendah.
Sementara itu, perlambatan inflasi serta data ekonomi AS yang mengecewakan telah memperkuat ekspektasi bahwa The Federal Reserve (bank sentral AS) akan menurunkan suku bunga sebanyak dua kali tahun ini, dimulai pada bulan September.
Kini, investor emas berharap keputusan The Fed bisa menjadi pendorong baru bagi kenaikan harga emas. Jika suku bunga diturunkan, logam mulia ini berpeluang kembali menguat. Selain itu, pergerakan harga perak juga diprediksi akan mengikuti tren emas.
Meski demikian, pelaku pasar harus tetap waspada terhadap beberapa tantangan, seperti stabilisasi hubungan dagang dan menurunnya ketegangan geopolitik, yang bisa menekan harga emas ke depan.
Bagikan Berita Ini