• company.vifxjogja@gmail.com
  • (0274) 2924181
News Photo

Aksi Taking Profit Tekan Harga Emas ke Level US$2.900!

Aksi ambil untung dan penguatan dolar Amerika Serikat (AS) telah menyebabkan penurunan harga emas. Harga emas jatuh dan terseret ke level psikologis US$2.900 per troy ons. Diperkirakan, harga emas akan sangat dipengaruhi oleh kondisi geopolitik di Timur Tengah dan konflik Rusia-Ukraina, serta data ekonomi AS.

Pada perdagangan hari ini, Senin (24/3), hingga pukul 06.27 WIB, harga emas dunia di pasar spot menguat tipis sebesar 0,05% menjadi US$3.025,29 per troy ons. Sementara itu, pada perdagangan sebelumnya, Jumat (21/3), harga emas dunia di pasar spot anjlok 0,68% menjadi US$3.023,63 per troy ons. Penurunan ini menandai pelemahan harga emas selama dua hari berturut-turut.

Minggu lalu menjadi periode yang berwarna bagi emas, di mana harga emas mencatat rekor tiga kali dari Senin hingga Rabu. Emas juga berhasil menembus level baru yang belum pernah tercatat sebelumnya, yaitu US$3.000. Namun, harga emas justru merosot menjelang akhir pekan.

Pada hari Jumat, harga emas sempat turun hampir 1%, tetapi akhirnya ditutup lebih rendah. Penurunan harga emas ini didorong oleh penguatan indeks dolar AS dan aksi ambil untung, meskipun ketidakpastian geopolitik dan ekonomi yang masih ada, serta prospek pemotongan suku bunga oleh The Federal Reserve (The Fed) membuat harga emas tetap berada di level yang tinggi.

Emas, yang secara tradisional dianggap sebagai investasi safe haven selama masa ketidakpastian geopolitik dan ekonomi, biasanya berkembang pesat dalam lingkungan suku bunga rendah. Tahun ini, emas telah mencapai 16 rekor tertinggi, dengan puncaknya di US$3.057,21 per ons pada hari Kamis (20/3).

"Pasar sedang beristirahat sejenak. Ada beberapa aksi ambil untung pada level ini dan dolar juga terus menguat," kata analis Marex, Edward Meir, kepada Reuters.

Indeks dolar AS (DXY) naik 0,23% menjadi 104,08 pada perdagangan Jumat (21/3), mencapai level tertinggi dalam dua minggu, sehingga membuat emas batangan yang dihargakan dalam dolar AS menjadi lebih mahal bagi pembeli luar negeri.

"Permintaan untuk aset safe haven yang berkelanjutan, baik karena kekhawatiran perdagangan maupun risiko geopolitik, terus menjadi pendorong utama," ungkap Peter Grant, wakil presiden dan ahli strategi logam senior di Zaner Metals.

Presiden AS Donald Trump masih menegaskan komitmennya untuk memberlakukan tarif timbal balik baru yang akan mulai berlaku pada tanggal 2 April. The Fed mempertahankan suku bunga acuannya pada Rabu pekan lalu dan mengindikasikan dua pemotongan seperempat poin persentase sebelum akhir tahun.

Para pelaku pasar memperkirakan setidaknya dua penurunan suku bunga masing-masing sebesar 25 bps, dengan pemotongan pada bulan Juli sudah diperhitungkan sepenuhnya, berdasarkan data LSEG.

Di sisi lain, Israel mengumumkan peningkatan serangan udara, darat, dan laut terhadap Hamas di Gaza untuk menekan pembebasan sandera yang tersisa, yang secara efektif membatalkan gencatan senjata selama dua bulan dan meluncurkan kampanye udara dan darat habis-habisan terhadap kelompok militan Palestina yang dominan.

Risiko dan ketegangan geopolitik dapat mendorong harga emas naik dan mencapai rekor-rekor baru. Namun, pekan ini harga emas relatif sepi sentimen. Ketegangan politik di Timur Tengah dan Rusia-Ukraina akan sangat menentukan pergerakan emas.

Sentimen terbesar pekan ini akan datang dari pengumuman inflasi pengeluaran pribadi konsumen AS (PCE). Inflasi ini menjadi pertimbangan utama The Fed dalam menentukan suku bunga acuannya. Inflasi PCE akan diumumkan pada hari Jumat ini. Sebagai catatan, inflasi PCE (month to month/mtm) mencapai 0,3% dan secara tahunan (year on year/yoy) sebesar 2,5% pada Januari 2025.

Jika inflasi kembali menguat, ini bisa menjadi kabar buruk bagi emas, karena The Fed kemungkinan akan menahan suku bunga lebih lama, sehingga dolar AS dan imbal hasil US Treasury akan menguat. Keduanya menjadi kabar buruk bagi emas.

Pembelian emas dikonversi dalam dolar AS, sehingga semakin mahal dolar, semakin mahal pula emas. Emas juga tidak menawarkan imbal hasil, sehingga kenaikan imbal hasil US Treasury berdampak negatif terhadap emas.

Data penting lainnya adalah pengumuman final pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal IV-2024 yang akan dirilis pada Kamis pekan ini. Ekonomi AS pada proyeksi awal tercatat tumbuh sebesar 2,3% secara tahunan pada kuartal keempat (Q4) 2024, pertumbuhan paling lambat dalam tiga kuartal, turun dari 3,1% pada Q3 dan sejalan dengan perkiraan awal.

CNBC

 

Bagikan Berita Ini

Komentar

Apakah Anda ingin mendapatkan layanan berkualitas kami untuk Investasi?