• company.vifxjogja@gmail.com
  • (0274) 2924181
News Photo

The Fed 'Goyang' Pasar dengan Pemotongan Suku Bunga

The Federal Reserve (The Fed), bank sentral Amerika Serikat, mengejutkan dunia dengan pemotongan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 4,75-5,0% pada hari Rabu waktu AS atau Kamis dini hari waktu Indonesia (19/9). Pemotongan ini lebih besar dari ekspektasi pasar yang hanya 25 bps dan merupakan pemotongan pertama sejak Maret 2020 atau empat tahun lalu saat awal pandemi Covid-19.

Sebelumnya, The Fed telah menaikkan suku bunga sebesar 525 bps dari Maret 2022 hingga Juli 2023 dan kemudian mempertahankan suku bunga di level 5,25-5,50% dari September 2023 hingga Agustus 2024 atau lebih dari setahun.

Pemotongan suku bunga ini dilakukan karena The Fed yakin bahwa inflasi AS sudah bergerak menuju target mereka di angka 2%. Namun, faktor utama dari pemotongan sebesar 50 bps adalah tingkat pengangguran AS yang meningkat.

Inflasi AS telah turun ke 2,5% (year on year/yoy) pada Agustus 2024, dari 3,7% pada Agustus 2023. Tingkat pengangguran mencapai 4,2% pada Agustus 2023, dari 3,8% pada Agustus 2023. Angka pengangguran bahkan sempat mencapai 4,3% pada Juli 2024 yang merupakan rekor tertinggi sejak Oktober 2021.

Jerome Powell, Chairman The Fed, dalam konferensi pers menjelaskan bahwa pemotongan suku bunga 50 bps mencerminkan keyakinan The Fed bahwa kebijakan tersebut dapat membantu pasar tenaga kerja tetapi tetap menjaga inflasi bergerak menuju 2% secara berkelanjutan.

Powell menegaskan bahwa pemotongan suku bunga sebesar 50 bps adalah hasil dari kesabaran menunggu turunnya inflasi. Namun, dia juga mengingatkan bahwa pemotongan suku bunga 50 bps bukanlah "new phase" dan tidak akan menjadi tradisi ke depan. Kebijakan suku bunga mendatang akan tetap dilakukan secara hati-hati dengan mempertimbangkan semua indikator ekonomi.

Peningkatan pengangguran menjadi salah satu faktor dari pemotongan suku bunga 50 bps. Pengangguran AS yang sempat mencapai 4,3% pada Juli 2024, naik jika dibandingkan sebelum era pengetatan atau Maret 2022 sebesar 3,6%. Pengangguran yang meningkat ini menjadi alasan kuat The Fed langsung memotong suku bunga 50 bps dan bukan 25 bps.

Pemotongan suku bunga sebesar 50 basis poin jarang terjadi dalam sejarah The Fed. Dalam 30 tahun terakhir, The Fed hanya memotong suku bunga 50 bps atau lebih dalam kondisi darurat atau krisis seperti pada 2001 saat terjadi krisis bubble internet atau gelembung dot-com, saat ekonomi AS dilanda krisis Subprime Mortgage pada 2007-2008, dan pemotongan sebesar 150 bps dilakukan pada Maret 2020 saat seluruh dunia dihantam pandemi Covid-19.

CNBC

Bagikan Berita Ini

Komentar

Apakah Anda ingin mendapatkan layanan berkualitas kami untuk Investasi?