• company.vifxjogja@gmail.com
  • (0274) 2924181
News Photo

The Fed Bikin Harga Emas Jadi Roller Coaster

Akhir pekan lalu, harga emas global mengalami penurunan tajam setelah data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) menunjukkan peningkatan yang lebih besar dari perkiraan. Diperkirakan bahwa harga emas akan terus berfluktuasi karena ada dua agenda penting minggu ini, yaitu inflasi AS dan pertemuan bank sentral The Federal Reserve (The Fed).

 Dilansir dari CNBC, pada Jumat lalu (7/6), harga emas global turun 3,49% menjadi US$ 2.292,70 per troy ons. Penurunan lebih dari 3% dalam sehari ini adalah yang terburuk sejak awal tahun dan mencapai level terendah sejak 1 Mei. Pada Senin pagi ini (10/6) sekitar pukul 06.25 WIB, harga emas tampak berusaha naik tipis sekitar 0,26% menjadi US$ 2297,42 per troy ons. Pergerakan harga emas hari ini tampaknya masih akan dipengaruhi oleh indeks dolar AS (DXY) yang kembali naik. 

Pada pagi ini, DXY juga tampak menguat dan kembali mencapai level di atas 105. Penguatan DXY disebabkan oleh data tenaga kerja AS yang lebih baik dari perkiraan. Departemen Tenaga Kerja AS pada Jumat malam (7/6/2024) mengumumkan bahwa pekerjaan non-pertanian naik menjadi 272.000 pekerjaan pada Mei 2024. 

Angka ini lebih tinggi dari perkiraan yang hanya naik menjadi 185.000 dari 175.000 pekerjaan pada April. Sementara itu, tingkat pengangguran naik sedikit menjadi 4%. Dengan indeks dolar AS yang lebih kuat, ini akan membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi pembeli dengan mata uang lain, terutama dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, karena mata uang mereka akan mengalami depresiasi. 

Selain itu, dengan pasar tenaga kerja yang kuat, ini kemudian memicu kekhawatiran bahwa era suku bunga tinggi dari bank sentral AS atau The Fed akan berlanjut. Phillip Streible, kepala strategi pasar di Blue Line Futures, mengatakan "Pasar emas mengalami sedikit penjualan, bersama dengan logam lainnya karena data menunjukkan bahwa ekonomi AS cukup kuat dan The Fed mungkin akan menunda pemotongan pertama". 

Lebih lanjut, Philip menjelaskan bahwa suku bunga yang tinggi akan meningkatkan biaya peluang untuk memegang emas batangan yang tidak akan memberikan imbal hasil yang cukup. Selain itu, ia menambahkan bahwa laporan tenaga kerja yang menambah sentimen bearish tampaknya didorong oleh data yang menunjukkan bahwa konsumen utama di Tiongkok menunda pembelian emas pada bulan Mei setelah melakukan pembelian selama 18 bulan berturut-turut.

CNBC

Bagikan Berita Ini

Komentar

Apakah Anda ingin mendapatkan layanan berkualitas kami untuk Investasi?